Nasi gurih bersantan yang disajikan dengan suwiran ayam, areh, dan labu siam.







Nasi Liwet awalnya adalah sajian istimewa dan sakral di dalam keraton Kasunanan Surakarta. Hidangan ini khusus dibuat untuk upacara adat dan ritual suci penolak bala.

Mulai dijual bebas di pinggiran alun-alun oleh abdi dalem yang mencari penghasilan tambahan. Hidangan ini disajikan sederhana menggunakan pincuk daun pisang untuk rakyat jelata.

Penjual Nasi Liwet Lesehan mulai menjamur di sepanjang kawasan Keprabon Solo. Mereka biasa buka di malam hari untuk menyajikan santap malam hangat bagi warga yang pulang kerja.

Proses memasak mulai memadukan perlengkapan dapur modern yang efisien. Meski begitu, banyak warung legendaris yang tetap mempertahankan tungku kayu bakar demi menjaga aroma sangit yang khas.

Diakui secara nasional sebagai salah satu mahakarya kuliner tradisional kota Solo. Makanan ini selalu menjadi menu wajib yang dicari oleh setiap wisatawan yang berkunjung.










