Jajanan lapis kenyal dua warna dengan aroma pandan yang wangi menenangkan.







Menjadi lambang kesabaran dan filosofi hidup perlahan orang Jawa (alon-alon waton kelakon). Hal ini dikarenakan proses mengukusnya yang memakan waktu lama, harus perlahan lapis demi lapis.

Pewarna hijau alami dari perasan daun suji dan pandan wangi mulai dipadukan dengan gula rafinasi. Gula putih bersih ini merupakan komoditas baru yang dibawa oleh serikat dagang Eropa.

Kue Lapis Jongkong naik kasta menjadi hidangan kue wajib di perkampungan. Jajanan ini tak pernah absen dalam setiap perayaan tradisional seperti hajatan, syukuran, dan hari besar keagamaan.

Kreasi modern di perkotaan mulai menambahkan lapisan dengan varian rasa kekinian seperti cokelat dan mocha. Meskipun begitu, varian rasa pandan kelapa tradisional tetap menjadi primadona terlaris.

Jajanan pasar ini tetap lestari dan mampu bertahan di tengah gempuran aneka dessert modern dari luar negeri. Sangat nikmat disajikan sembari minum teh tawar hangat di sore hari.










